5 Ucapan ini bisa Berdampak Buruk Terhadap Perkembangan Psikologi Anak

psikologi anak

Orang tua berperan besar dalam mendidik anak. Salah satunya saat menyampaikan atau mengucapkan sesuatu kepada buah hati. Pada masa usia tumbuh kembang anak setiap orang tua atau orang yang berada disekeliling mereka dianjurkan mengucapkan perkataan yang baik. Sebab, pada masa usia tersebut anak-anak akan merekam apa yang orang tua kerjakan dan ucapkan.

Ucapan sebagai cara berkomunikasi memiliki pengaruh yang cukup besar dalam membentuk kepribadian anak. Dimana ucapan bukan saja dari tutur kata yang dilontarkan, melainkan juga nada postif dan negatif ketika diucapkan. Perkataan yang baik dapat membentuk kehidupan yang baik untuk masa depan anak. Begitupun dengan perkatataan yang buruk dapat berdampak buruk bagi perkembangan psikologi anak.

psikologi anak

Tidak selamanya anak akan menurut dan menggemaskan. Ada saatnya anak akan membuat orang tua kesal karena melakukan perbuatan yang tidak baik atau melakukan yang tidak Anda ingin mereka lakukan. Respon dari kejadian tersebut biasanya orang tua menunjukkan rasa tidak suka degan memarahinya, membentak sampai membandingkan anak dengan anak lain. Sikap ini mugkin terjadi spontanitas, di mana Anda ingin memberiktahukan konsekuensi atas kesalahan yang telah diperbuat oleh si kecil. Namun, ternyata hal tersebut termasuk dalam kekerasan verbal yang akan berdampak dalam pembentukan mental anak usia dini.

Walaupun Anda pernah marah atau membentak si kecil, ada beberapa ucapan yang harus Anda hindari untuk perkembangan psikologi anak. Beberapa ucapan atau kalimat ini bisa jadi akan berdampak pada psikologi anak yang akan dirasakan sampai ia tumbuh dewasa nanti. Berikut 7 ucapan yang harus Anda hindari:

“Kenapa sih anak ibu seperti ini?” Sepertinya kesalahan besar telah dilakukan oleh si kecil, sehingga Anda mengucapkan kalimat “Kenapa sih anak Ibu seperti ini?”. Sebagai orang tua, Anda tidak akan bisa memprediksi sebesar apa kesalahan yang akan anak Anda sama yang kedua dan ketiga kali. Biasanya anak yang tidak bisa diberitahu seperti ini tanpa sengaja akan terlontar kata-kata kesal tersebut. Namun, pada anak ucapan ini bisa dianggap dengan presepsi lain. Bisa saja mereka akan merasa bahwa Anda telah menyesal sudah melahirkan dirinya ke dunia, dimana kehadirannya adalah mala petaka bagi orangtuanya.

Membandingkan dengan anak yang lain. Siapapun tidak ada yang suka jika dibandingkan, bukan? Begitupun dengan si kecil. Apabila dia berbuat salah bukan berarti Anda bisa membandingkan dengan adik atau kaka mereka atau juga dengan anak lainnya. Membandingkan artinya Anda tidak menerima kekurangan dia. Hal ini akan menurunkan rasa percaya diri anak. Dia akan merasa dirinya tidak sebaik orang disekitarnya.

Rasa percaya diri adalah modal utama dalam perkembangan psikologi anak. Sikap ini baik untuk dirinya dan di kemudian hari yang bisa mendorong kesuksesan di masa depan. Karena itu, berhenti untunk membandingkan si kecil dengan anak lainnya.

Ngatain anak bodoh. Anak tidak bisa melakukan sesuatu atau tidak bisa menjawab dengan benar, bukan berarti mereka bodoh. Anda bisa lebih dulu bericara baik-baik dengan bertanya kenapa dia melakukan kesalahan tersebut. Meskipun nada Anda bercanda dengan mengucapkan dia bodoh tentu ini berpengaruh terhadap psikologi anak. Ucapan seperti ini dapat membuat mental anak jatuh dan merasa dirinya tidak mampu.

Menjatuhkan sosok orang tuanya. Hal ini bisa saja terjadi jika Anda sedang bertengkar dengan pasangan. Sebagai pasangan tentu ada sikap yang Anda tidak suka dari diri dirinya, tetapi salah satu sikap tersebut ternyata menurun ke anak. Lalu Anda pun memarahi anak dengan mengucapkan “Jangan seperti Ayah/Ibu ya …”. Ucapan seperti itu tentu akan berdampak buruk, anak akan menilai buruk salah satu orang tuanya.

Kejadian lainnya, Anda sedang bertengkar di depan anak, lalu spontan Anda mengucapkan hal yang sama. Kata-kata tersebut akan memancing pertengkarang semakin besar. Ini akan mengganggu psikologi anak karena mereka menganggap bahwa orang tua adalah panutan bagi dirinya.

Setelah marah tidak mengucapkan maaf. Jika anak-anak sudah tidak bisa diberi tahu tentu jalan satu-satu Anda harus tegas. Meskipun Anda tidak memarahinya, tapi anak tahu kalau Anda sedang marah dengan dia. Biasnya setelah itu si kecil akan menuruti apa yang Anda ucapkan, namun dengan perasaan takut. Karena itu, jika emosi Anda sudah kembali stabil Anda bisa meminta maaf. Dengan cara ini hubungan Anda dan anak akan kembali mencair. Meskipun anak yang salah meminta maaf bukanlah hal yang salah dan akan menurunkan derajat Anda sebagai sosok orang tua di matanya. Bahkan hal ini mengajarkan mereka untuk mau menuruti perkataan orang tua dan tidak membuat dirinya menjadi anak yang tertutup. Sebab, Anda tetap mau menerima kesalahannya dan membuat dirinya nyaman untuk bersikap kepada Anda.